www.sabat-hariketujuh.org

Pengantar

 

H

ari Sabat berarti hari untuk beristirahat. Hari istirahat ini telah diperkenalkan oleh Tuhan Allah sendiri kepada Adam dan Hawa semenjak dari mula pertama sejarah Kejadian Dunia yang lalu.Karena planet bumi ini berikut seluruh isinya telah diciptakan Tuhan dalam enam hari kerja, maka pada hari yang ketujuh itulah Hari Sabat Tuhan Allah, yaitu hari istirahat-Nya.

Adam dan Hawa sebagai penduduk bumi yang pertama, adalah warga Kerajaan Sorga yang pertama yang ditempatkan di planet bumi ini sebagai rajanya.Jadi sebagaimana halnya dengan planet-planet bumi lainnya yang berpenduduk yang berada di angkasa luar, telah memiliki raja-raja mereka masing-masing, makaplanet bumi kita inipun memiliki rajanya sendiri semenjak dari mula pertama yang lalu.

Karena Kerajaan Sorga itu adalah sebuah Negara Hukum yang berbentuk Kerajaan (autocracy) dan bukan negara hukum yang berbentuk republik dari rakyat yang merdeka (democracy), maka hukum yang berlaku di seluruh alam semesta kepunyaan Tuhan Allah adalah hukum dari Sepuluh Perintah Torat itu saja. Mengenai hukum itu hamba Tuhan Nyonya White mengatakan :

“Hukum Allah itu adalah s a m a sucinya dengan AllahNya sendiri. Iaitu merupakan ungkapan dari kehendak-Nya, suatu salinan dari tabiat-Nya, ekspresi dari k a s i h dan kebijakan Ilahi-Nya.” Patriarchs and Prophets, p. 52.

Asal mulanya keberadaan hukum Allah itu, adalah sama dengan asal mulanya keberadaan Tuhan Allah sendiri, yaitu semenjak dari masa yang tak terhingga sebelumnya yang tidak diketahui oleh setiap mahluk ciptaan-Nya. Demikian pula, maka  sampai kapan hukum-Nya itu kelak berlaku dan mengikat, iaitupun tidak akan diketahui, karena selama Tuhan Allah dan Kerajaan-Nya masih berdiri, maka selama itu pula Hukum Dasar dari kesepuluh perintah Torat-Nya itu akan tetap berlaku dan mengikat di dalam Kerajaan-Nya.

Jadi, tidaklah mengherankan apabila semenjak dari terciptanya kedua leluhur kita itu, maka sejak dari saat itu juga kesepuluh perintah dari Hukum Dasar Kerajaan Sorga itu sudah akan ditanamkan langsung ke dalam ingatan mereka untuk selanjutnya supaya dipatuhi dengan ketat.

Adam dan Hawa telah diciptakan pada hari yang keenam dari Minggu Kejadian yang pertama, yaitu hari Jumaat, dan pada keesokan harinya, Hari Sabat, mereka sudah harus beristirahat bersama-sama dengan Khalik Pencipta-Nya sendiri sesuai Hukum Torat. Demikian itulah, maka hendaklah diketahui bahwa Istirahat pada Hari Sabat itu semenjak dari mula pertama kejadian dunia yang lalu telah diatur di dalam Perintah Ke-IV dari Hukum Dasar Torat, yang berbunyi sebagai berikut :

 

Perintah Ke– IV

 

“INGATLAH KAMU AKAN H A R I  S A B A T SUPAYA MENYUCIKANNYA : ENAM HARI LAMANYA HENDAKLAH KAMU BEKERJA DAN MELAKUKAN S E M U A  PEKERJAANMU : T E T A P I  HARI YANG KETUJUH ADALAH S A B A T  DARI TUHAN ALLAHMU : DI DALAMNYA JANGANLAH KAMU MELAKUKAN PEKERJAAN APAPUN JUGA, BAIK KAMU, BAIK ANAKMU LAKI-LAKI, BAIK ANAKMU PEREMPUAN, BAIK HAMBAMU LAKI-LAKI, BAIK HAMBAMU PEREMPUAN, BAIK HEWAN TERNAKMU, ATAUPUN ORANG ASING YANG BERADA DI DALAM PINTU-PINTU GERBANGMU. KARENA DALAM ENAM HARI LAMANYA TUHAN SUDAH MEMBUAT LANGIT DAN BUMI, LAUT, DAN SEMUA YANG BERADA DI DALAMNYA. LALU BERISTIRAHAT PADA HARI YANG KETUJUH. OLEH SEBAB ITULAH TUHAN MEMBERKAHI HARI SABAT ITU DAN MEMPERSUCIKANNYA.” -- Keluaran 20 : 8 – 11.

Karena hukum Sabat itu juga “merupakan ungkapan dari kehendak-Nya, suatu salinan dari tabiat-Nya, ekspresi dari k a s i h dan kebijakan Ilahi-Nya.”Patriarchs and Prophets, p. 52,  maka dari Perintah ke-IV di atas akan tampak jelas, bahwa Hukum Allah termasuk hukum Sabat dari Perintah ke-IV itu berlaku dan mengikat bukan saja di bumi ini, melainkan juga di seluruh alam semesta ciptaan Allah, dimana-mana saja warga Kerajaan-Nya berada. Pemberi contoh untuk bagaimana Hari Sabat itu disucikan, adalah Tuhan Allah sendiri.Bahkan melalui Jesus putera tunggal-Nya itu juga yang pernah tinggal di tengah-tengah umat-Nya di Palestina dalam sejarah yang lalu, contoh teladan untuk bagaimana hukum Sabat itu dipatuhi dengan benar telah juga diberikan. Untuk itulah Jesus sendiri pernah mengatakan :“JIKA KAMU MENGASIHI A K U, PATUHILAH PERINTAH-PERINTAH-KU.”Yahya 14 : 15. Yang dimaksud dengan perintah-perintah-Nya itu ialah kesepuluh perintah dari Hukum Dasar Torat itu saja. Tidak ada lagi yang lain.

 

Kekuatan Hukum-Nya

 

Kita kini sudah berada di akhir zaman, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi sudah meningkat sedemikian majunya, namun ironisnya rasa-rasanya belum ada satupun Gereja Kristen di dunia ini yang terbuka matanya kepada K a s i h Allah, yang sudah sejak mulanya dituangkan-Nyake dalam Hukum Kasih-Nya, yang terdiri dari Sepuluh Perintah Torat-Nya itu. Dunia Kristen sampai kepada hari ini masih saja mengira, bahwa yang dimaksud dengan Hukum Kasih itu adalah hanya BUDAYA KASIH SAYANG KEPADA ALLAH, yang dibuktikan oleh berdoa yang tekun secara berkesinambungan kepada-Nya, BUDAYA KASIH SAYANG DI ANTARA SESAMA MANUSIA, DAN BUDAYA KASIH SAYANG TERHADAP LINGKUNGAN HIDUPyang kesemuanya harus dibuktikan oleh menghadiri semua missa di gedung-gedung gereja secara terus menerus.Dengan demikian, maka seluruh i s i Alkitab itu telah digunakan  sebagai hanya sekedar penunjang teori-teori mereka perihal kasihnya itu.

Dalam membicarakan kekuatan hukum dari Perintah ke-IV perihal hukum Sabat itu, maka orang harus mengerti, bahwa sesuai ilmu pengetahuan, maka HUKUM yang dikenal di bumi ini semenjak dari ciptaannya yang laluakan terdiri dari hanya dua bagian. Nabi Jesaya sejak jauh-jauh hari sebelumnya telah mengatakan :

“Akan hukum Torat dan akan Kesaksian, jika mereka itu berbicara tidak sesuai dengan perkataan ini, maka itu adalah karena sebab tidak ada terang di dalam mereka.”Jesaya 8 : 20.

“Hukum Torat” ialah Undang-Undang Dasar Kerajaan,Sorga yang terdiri dari kesepuluh perintah Torat itu. Dan “Kesaksian” ialah seluruh peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Dasar itu.Undang-Undang Dasar itu memiliki kekuatan hukumnya yang tertinggi dan permanen, sebab iaitu merupakan tabiat dan kehendak dari Tuhan Allah sendiri. Karena Tuhan Allah itu tidak pernah berubah sifat dan keberadaan-Nya, maka  “ungkapan dari kehendak-Nya, salinan dari tabiat-Nya, dan ekspresi dari k a s i h dan kebijakan Ilahi-Nya.”Patriarchs and Prophets, p. 52,   yang terungkap di dalam Hukum Dasar Torat-Nya itu tidak akan pernah dapat berubah. Artinya, dalam  keadaan yang bagaimanapun juga, Hukum Dasar dari sepuluh perintah Torat itu tidak mungkin lagi bisa diobahkan, baik oleh Tuhan Allah sendiri, apalagi oleh seseorang manusia ciptaan-Nya.

Jadi, karena Hukum Sabat dari Perintah yang ke-IV itu adalah bagian dari Undang-Undang Dasar Kerajaan yang permanen sifatnya, maka kekuatan hukum dari Hukum Sabat itupun tentunya tidak lagi dapat diragukan.

Tetapi tidaklah demikian itu halnya dengan “Kesaksian” yang merupakan kumpulan peraturan-peraturan pelaksanaan dari Hukum Dasar Torat.Karena jumlah umat manusia terus meningkat, maka tidaklah mengherankan apabila peraturan-peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Dasar itupun sudah harus meningkat banyaknya.

Karena di zaman nabi Jesaya, nama Jesus belum pernah dikenal, maka seluruh peraturan pelaksanaan dari Hukum Dasar Torat di waktu itu disebut “Kesaksian.” Setelah Jesus datang di Palestina, maka nama itu telah meningkat menjadi “Kesaksian Jesus Kristus.” Baca : Wahyu 12 : 17.  Dan di akhir zaman sekarang ini, setelah para nabi akhir zaman mengungkapkan seluruh nubuatan dari Wasiat Lama, buku Wahyu, dan berbagai perumpamaan Jesus dari Wasiat Baru ke dalam ROH NUBUATAN, maka Kesaksian Jesus Kristus itu akhirnya telah berkembang menjadi ROH NUBUATAN. Dan inilah ROH NUBUATAN yang dimaksud pada Wahyu 19 : 10 (Bagian B).

Perhatian :“Roh Nubuatan” dari buku-buku terbitan Nyonya White ialah pekabaran dari malaikat Wahyu 14 : 6 – 9. Tetapi ROH NUBUATAN dari Wahyu 19 : 10 (bag.B) itu ialah gabungan pekabaran Malaikat Wahyu 18 : 1 dari hamba Tuhan Victor T. Houteff (pekabaran Tongkat Gembala) dengan pekabaran dari malaikat yang ketiga (Roh Nubuatan) dari Nyonya White. Gabungan dari kedua pekabaran itu (Roh Nubuatan + Tongkat Gembala) ke dalam ROH NUBUATAN akan kelak menerangi bumi dengan kemuliaannya, baharu akan berakhir kelak sejarah dunia kita untuk selama-lamanya. Bacalah buku Early Writings, p. 277.

 

Sebagai Peraturan-Peraturan

Pelaksanaan dari Hukum Dasar Torat

 

Nabi Musa dikenal sebagai seorang ahli hukum dan ahli dari sejarah kejadian dunia ini.Ia pernah mengatakan :

“Perkara-perkara yang rahasia itu berlaku bagi milik Tuhan Allah saja, tetapi perkara-perkara itu yang diungkapkan adalah bagi milik kita dan bagi anak-cucu kita sampai selama-lamanya, s u p a y a  dapat kita melaksanakan semua perkataan dari hukum Torat ini.”Ulangan 29 : 29.

Perkara-perkara yang rahasia itu tidak ada tersedia di dalam Alkitab, sebab sekaliannya itu adalah bagi milik Tuhan Allah saja. Tetapi semua yang sudah disajikan di dalam Alkitab, baik yang berupa nubuatan-nubuatan yang serba rahasia dari para nabi Wasiat Lama, maupun yang berupa berbagai perumpamaan Jesus dan buku Wahyu dari Wasiat Baru, yang belum jelas pengertiannya sampai di akhir zaman, sekaliannya itu sudah akan diungkapkan pengertiannya di akhir zaman sekarang ini, s u p a y a  dapat kita mematuhi dan melaksanakan semua perkataan dari Hukum Dasar Torat itu. Demikian kata Musa. Untuk itulah, maka semenjak dari jauh-jauh hari sebelumnya nabi Amos sudah menubuatkannya sebagai berikut :

“Sesungguhnya Tuhan Allah tidak akan berbuat barang sesuatu apapun, melainkan diungkapkan-Nya r a h a s i a – N y a  kepada para hamba-Nya, yaitu n a b i – n a b i.”Amos 3 : 7.

Kalau saja mau kita sadari bahwa kita kini sudah berada di akhir zaman, semenjak dari permulaan abad 18 yang lalu, maka hendaklah sudah dapat dipahami, bahwa para nabi akhir zaman itu sesungguhnya sudah datang. Artinya, di akhir zaman sekarang inilah seluruh isi Alkitab itu, berikut berbagai macam permasalahannya, sudah seluruhnya diungkapkan pengertiannya ke dalam ROH NUBUATAN. Tinggal hanya lagi kesediaan kita untuk mencari dan menemukan para nabi akhir zaman itu berikut semua ajaran mereka di dalam ROH NUBUATAN,untuk selanjutnya dipelajari dan dipatuhi sesuai yang diamanatkan oleh nabi Musa, penulis Hukum Dasar Kerajaan Sorga yang pertama itu di bumi ini.

Hari Sabat dari Perintah ke-IV dari Hukum Dasar Torat itu tidak dapat dipisahkan daripada Perintah-Perintah yang lainnya dari Hukum Dasar yang sama, sebab kewajiban hukum yang dibicarakan di atas itu berlaku bagi seluruh Perintah-Perintah itu. Artinya, apabila salah satu dari Perintah-Perintah itu dilanggar, maka berdosalah kita, yaitu melanggar hukum. Bahkanmelanggar yang satu akan sama saja artinya dengan melanggarsemuanya, yaitu berdosa. Jadi, janganlah mengira bahwa karena kita sudah lama adalah penganut Hukum Sabat, maka kita sudah akan pasti diselamatkan pada kedatangan Jesus yang akan datang. Bahkan jangan sekali mengira bahwa karena kita sudah memelihara kesucian Sabat sesuai Alkitab, maka kita tidak lagi memerlukan ROH NUBUATAN.Pendapat-pendapat yang bodoh dan hina sedemikian ituseharusnya tidak boleh lagi ada di dalam dunia yang sudah maju ilmu pengetahuan dan teknologinya sekarang ini.

Jadi, hendaklah dimengerti bahwa karena seluruh Alkitab itu sudah selengkapnya diinterpretasikan oleh nabi-nabi akhir zaman ke dalam ROH NUBUATAN, maka kepada setiap warga kerajaan sorga yang hidup di akhir zaman sekarang ini,Tuhan Allah perintahkan agar mematuhi Hukum dari seluruh Sepuluh Perintah-Nya itu sesuai semua peraturan pelaksanaannya yang tersedia di dalam ROH NUBUATAN. Bacalah kembali Ulangan 29 : 29 di atas dengan saksama.

 

Bukan Musa,

melainkan Tuhan Allah sendiri yang ……….

 

Tahukah anda, bahwa bukan Musa, penulis Alkitab yang pertama itu, yang telah menulis UNDANG-UNDANG DASAR KERAJAAN SORGA itu. Melainkan Tuhan Allah sendiri, yang dengan jari-jari-Nya sendiri telah menulis seluruh Sepuluh Perintah dari Undang-Undang Dasar Kerajaan-Nya itu pada dua log batu, lalu turun ke Gunung Sinai di bumi ini untuk menghantarkan sendiri dan menyerahkannya langsung kepada kita melalui perantaraan Musa hamba-Nya.

Karena UUD itu adalah “ungkapan dari kehendak-Nya, salinan dari tabiat-Nya, dan ekspresi dari k a s i h dan kebijakan Ilahi-Nya.” Patriarchs and Prophets, p. 52, maka tidaklah mengherankan apabila UUD dari Kerajaan Sorga itu sudah harus dibuat oleh Tuhan Allah sendiri. Dan semua Peraturan Pelaksanaannya dibuat oleh Allah Anak, yaitu Jesus Kristus. Itulah sebabnya, maka nabi Jesaya mengatakan : “Akan Hukum Dasar Torat dan akan Kesaksian atau Kesaksian Jesus atau ROH NUBUATAN, barangsiapa yang tidak berbicara sesuai dengan semua perkataan itu, maka tidak akan ada terang atau kebenaran di dalam mereka itu. Bacalah kembali Jesaya 8 : 20.

Sebagai bangsa yang sudah cukup beradab, di dalam dunia yang sudah maju ilmu pengetahuan dan teknologinya sekarang ini, maka kita seharusnya sudah dapat mengerti, bahwa Pancasila dan UUD 1945 itu semenjak dari mulai berdirinya Negara kita INDONESIA, telah disusun dan dibuat oleh para pendiri Negara ini sejak dari mulanya. Mereka itulah yang telah mewakili seluruh bangsa Indonesia.Pemilik Bumi Pertiwi ini untuk membuat Pancasila dan UUD 1945 itu menjadi landasan kehidupan kita yang abadi, dan bahkan menjadi alat pemersatu bangsa kita di muka bumi ini untuk selama-lamanya. Karena Pembuat UUD 1945 adalah Bangsa Indonesia, dan Pembuat Undang-Undang Biasa yang berisikan Peraturan-Peraturan Pelaksanaan bagi UUD itu juga adalah bangsa Indonesia, maka di waktu ini, yang mewakili Dewan Konstituante Pembuat UUD 1945 yang pertama dahulu tak dapat tiada adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia (MPR RI) dan Mahkamah Konstitusi RI. Sementara itu, pembuat Undang-Undang Biasa yang akan terus bekerja sepanjang masa, ialah DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat RI).

Adanya kesamaan-kesamaan di antara Hukum Kerajaan Sorga di satu pihak dengan Hukum dari berbagainegara di dunia ini, khususnya Hukum dari Negara kita Indonesia, maka seyogyanya para penguasa Gereja Kristen berikut semua umatnya sudah dapat terbuka matanya terhadap betapa kacau balaunya Hukum Kerajaan Sorga itu dipraktikkan di dalam gereja-gereja Kristen di dunia sekarang ini.  

Tidakkah anda melihat sendiri, bagaimana “K A S I H” dalam pengertian “BUDAYA KASIH SAYANG” terus menerus dipromosikan di dalam Gereja-Gereja, sementara “KASIH” dalam pengertian Hukum Kerajaan Sorga yang justru adalah bagian dari kepribadian Allah,khalik Pencipta kita itu sudah tidak lagi dikenal ? Tidaklah mengherankan mengapa kondisi kerohanian Gereja-Gereja di akhir dunia sekarang ini telah dinubuatkan oleh nabi Jesaya sejak dari jauh-jauh hari sebelumnya sebagai berikut :

“MAKA PADA HARI ITU TUJUH ORANG PEREMPUAN AKAN BERPEGANG PADA SEORANG LAKI-LAKI, SAMBIL MENGATAKAN,KAMI AKAN MAKAN ROTI BUATAN KAMI SENDIRI, DAN MENGENAKAN PAKAIAN BUATAN KAMI SENDIRI, HANYA SAJA PERKENANKANLAH KAMI DIPANGGIL DENGAN NAMA-MU, UNTUK MEMBUANG SEMUA CACAD CELA KAMI.” – JESAYA 4 : 1.

Karena semua nubuatan dari para nabi Wasiat Lama baharu diungkapkan pengertiannya di akhir zaman ini menggenapi nubuatan dari nabi Amos pada bukunya Amos 3 : 7, maka ucapan nabi Jesaya itu akan benar-benar digenapi sekarang ini. Angka 7 berarti lengkap, wanita melambangkan Gereja, maka ketujuh wanita itu tak dapat tiada melambangkan semua Gereja Kristen di akhir zaman sekarang ini, termasuk Gereja MAHK pemelihara Sabat, hari ke-7 itu.Semua Gereja-Gereja di waktu ini secara demonstratifdalam semua perbaktiannya memperlihatkan kepada Kristus, bahwa mereka itu membutuhkan hanya nama-Nya saja, yaitu “K r i s t e n “ untuk membuang semua cacad kerohanianmereka. Semua “makanan dan pakaian“ yang melambangkan Hukum Dasar Torat dan ROH NUBUATAN baginya akan diciptakan sendiri oleh mereka.

Demikian itulah, maka dapatlah kita saksikan sendiri bagaimana BUDAYA KASIHSAYANG kini secara terang-terangan sudah dianut menggantikan landasan kehidupan umat Kristen yang kekal dan abadi, yaitu HUKUMdan KESAKSIAN JESUS atau ROH NUBUATAN itu.

 

Sabat Hari Ke-7

ialah Hari Nasional Kerajaan Sorga

 

Jika kita pada setiap tahun pada setiap tanggal 17 Agustus memperingati Hari Kemerdekaan bangsa Indonesiadan Soekarno-Hatta sebagai Proklamator berdirinya Republik ini pada 17 Agustus 1945, maka tidakkah kita mau menyadari bahwa sebagai umat Kristen warga kerajaan Sorga, kita juga wajib pada setiap hari yang ketujuh dari minggu memperingati “Hari Sabatdan Tuhan Allah” yang telah menciptakan kita berikut planet bumi ini dan seluruh isinya dalam enam hari kerja lamanya, lalu berhenti beristirahat pada hari yang ketujuh ? Hari Ketujuh dari setiap minggu itu adalah Hari Sabat.Dan itulah Hari Sabat milik Tuhan Allah. Di dalam Perintah Ke-IV dari UUD Kerajaan-Nya Tuhan Allah berfirman :

“INGATLAH KAMU AKAN H A R I  S A B A T SUPAYA MENYUCIKANNYA : ENAM HARI LAMANYA HENDAKLAH KAMU BEKERJA DAN MELAKUKAN S E M U A  PEKERJAANMU : T E T A P I  HARI YANG KETUJUH ADALAH S A B A T  DARI TUHAN ALLAHMU : DI DALAMNYA JANGANLAH KAMU MELAKUKAN PEKERJAAN APAPUN JUGA, BAIK KAMU, BAIK ANAKMU LAKI-LAKI, BAIK ANAKMU PEREMPUAN, BAIK HAMBAMU LAKI-LAKI, BAIK HAMBAMU PEREMPUAN, BAIK HEWAN TERNAKMU, ATAUPUN ORANG ASING YANG BERADA DI DALAM PINTU-PINTU GERBANGMU. KARENA DALAM ENAM HARI LAMANYA TUHAN SUDAH MEMBUAT LANGIT DAN BUMI, LAUT, DAN SEMUA YANG BERADA DI DALAMNYA. LALU BERISTIRAHAT PADA HARI YANG KETUJUH. OLEH SEBAB ITULAH TUHAN MEMBERKAHI HARI SABAT ITU DAN MEMPERSUCIKANNYA.” -- Keluaran 20 : 8 – 11.

Mungkin saja karena satu dan lain hal tidak semua orang Indonesia dapat memperingati dan merayakan Hari Nasional 17 Agustus itu setiap tahun pada waktunya, namun tidak akan ada seorangpun yang berpendidikan di antara kita akan berani dengan sengaja mempertanyakan : Apakah sebenarnya Hari Nasional 17 Agustus itu ?

Sekalipun demikian, hampir seluruh umat Kristen di muka bumi ini memperlihatkan dengan jelas, baik melalui ucapan kata-kata, maupun oleh perbuatan imannya, mereka itu samasekali belum mengenal dan mengerti akan HARI YANG KETUJUH ADALAH SABAT DARI TUHAN ALLAHNYA.

Tidaklah mengherankan apabila sejak dari jauh-jauh hari sebelumnya melalui nubuatan nabi Jesaya kepada kita diingatkan, bahwa umat Kristen di akhir zaman sekarang ini menyandang nama Kristen hanya untuk menutup-nutupi semua dosa dari berbagai pelanggaran hukumnya.

 

Kesimpulan akhir

 

Hukum Sabat itu adalah bagian yang utama dari keseluruhan Undang-Undang Dasar Kerajaan Sorga, sebab pada Perintah yang ke-IV itulah terdapat cap meterai Allah. Pada cap meterai itu terdapat nama Allah sebagai nama jabatan-Nya, Khalik Pencipta sebagai pekerjaan-Nya, dan seluruh alam semesta sebagai daerah Pemerintahan-Nya. 

Karena Hukum Sabat itu merupakan bagian dari UUD Kerajaan yang harus seluruhnya dipatuhi, maka dalam semua pembahasan kami di atas telah kami tunjukkan betapa pentingnya seluruh UUD Kerajaan itu supaya dipatuhi, sebab melanggar yang satu akan sama dengan melanggar semuanya. Dosa ialah pelanggaran hukum, dan upah dosa ialah maut atau mati yang kekal.

Sekalipun sebagai Juru Selamat Jesus sudah berhasil menebus semua umat manusia tanpa kecuali seorangpun.Namun telah diingatkan dengan tegas sebagai berikut :

“JESUS MENYELAMATKAN MANUSIA BUKAN D A L A M DOSA, MELAINKAN D A R I  DOSA, MAKA BARANGSIAPA YANG MENGASIHI D I A, HENDAKLAH MENUNJUKKAN KASIH-NYA ITU DALAM KEPATUHAN.” – Review and Herald, vol. 6, p. 45.

Karena kita kini hidup di akhir zaman, dan bukan lagi di zaman Musa ataupun di zaman rasul-rasul yang lalu, maka pada waktu inilah nubuatan Jesaya 8 : 20 itu akan benar-benar berlaku dan mengikat. Untuk itulah, maka marilah kita mematuhi Hukum Sabat itu (maupun seluruh Perintah dari UUD Kerajaan Sorga) sesuai semua petunjuk pelaksanaannya di dalam ROH NUBUATAN  saja. 

Jangan lagi menyebut nama Jesus dalam semua ucapan doamu, jika UUD Kerajaan-Nya masih saja terus dilalaikan. Jesus tidak akan berkenan darah-Nya dicurahkan bagi kita selama Hukum Kerajaan-Nya masih saja terus dilanggar. Akhirnya melalui perantaraan hamba-Nya JESUS memperingatkan :

“Kalau saja hukum dapat dirubah, maka manusia dapat saja diselamatkan tanpa pengorbanan dari Kristus; namun dari kenyataan bahwa adalah perlu bagi Kristus untuk melepaskan nyawa-Nya bagi bangsa manusia yang jatuh, membuktikan bahwa hukum Allah tidak dapat membebaskanmanusia yang berdosa daripada berbagai tuntutan hukum atas dirinya. Telah diperlihatkan  bahwa upah dosa itu adalah maut. Pada waktu Kristus mati, kebinasaan Setan lalu dibuat pasti. Tetapi sekiranya hukum itu dihapus pada kayu salib, sebagaimana yang dikatakan banyak orang, maka penderitaan dan kematian dari Putera kesayangan Allah itu dialami hanya untuk memberikan kepada Setan justru apa yang dikehendakinya; lalu penghulu kejahatan itu berhasil menang, berbagai tuduhannya melawan pemerintahan Ilahi lalu dikuatkan. Kenyataan yang kuat bahwa Kristus telah memikul hukuman karena pelanggaran manusia, adalah suatu argumentasi yang sangat kuat bagi semua mahluk ciptaan yang berakal, bahwa hukum adalah tidak berubah., bahwa Allah adalah benar dan adil, penuh rahmat, dan mau berkorban; dan bahwa keadilan dan rahmat yang tak terhingga bergabung dalam penyelenggaraan pemerintahan-Nya.” - Patriarchs and Prophets, p. 70.

 

* * *

 

Home page    |    About us    |    Article List    |    Links    |    Contacts

Copyright © 2014 Sabat-HariKeTujuh.org - All rights reserved.